Memuat halaman...

Ganti V-Belt Racing Aftermarket Beat FI Buat Yang Suka Betot Gas

Siap membaca

Beginilah kalau sudah kena efek kepepet, sob. Mau tidak mau harus mengganti v-belt Honda Beat FI yang putus di bengkel pinggir jalan. Kondisinya pun serba terbatas, mulai dari peralatan seadanya, pilihan barang tidak banyak, sampai harga part yang terasa mahal belum termasuk ongkos pasang.

Waktu itu funkynetter benar-benar tidak punya banyak pilihan. Motor harus bisa jalan lagi, jadi v-belt yang tersedia di bengkel pinggir jalan akhirnya dipasang juga. Tapi ternyata belum ada sebulan dipakai, kondisi v-belt sudah mulai retak-retak dan bagian pinggirnya terlihat seperti kecabik-cabik.

Entah karena barangnya KW, tidak sesuai spesifikasi Honda Beat FI, atau memang karena gaya berkendara funkynetter yang waktu itu masih suka betot gas dalam-dalam. Yang jelas, umur pakainya jauh dari harapan.

V-belt cepat rusak setelah ganti darurat

Untuk v-belt original, umur pakainya biasanya bisa cukup panjang kalau pemakaian normal dan kondisi CVT sehat. Bahkan ada yang bisa bertahan puluhan ribu kilometer jika perawatannya bagus.

Tapi karena waktu itu belinya dalam kondisi darurat di bengkel seadanya, kemasannya juga berbeda dari v-belt ori yang biasa ditemui, funkynetter jadi curiga kalau part tersebut bukan barang original.

Masalahnya, v-belt adalah komponen penting di motor matic. Kalau kualitasnya kurang bagus atau tidak sesuai spesifikasi, efeknya bisa langsung terasa. Tarikan bisa berubah, suara CVT bisa kasar, bahkan risiko putus di jalan juga makin besar.

Pengalaman v-belt putus di tengah jalan

Ini bukan pertama kalinya funkynetter mengalami v-belt putus di tengah jalan. Bahkan sudah beberapa kali kejadian seperti ini bikin perjalanan jadi kacau.

Salah satu kejadian yang paling terasa adalah saat malam hari, kondisi hujan, dan lokasi berada di Jalan Baru Karawang yang suasananya gelap serta cukup sepi. Motor tiba-tiba tidak bisa jalan karena v-belt putus.

Mau tidak mau, motor harus didorong sambil mencari bengkel yang masih buka. Untungnya, waktu itu ada pengendara motor yang baik hati berhenti dan membantu dengan cara menstep motor. Jadi motor didorong dari belakang sambil pengendara lain tetap menaiki motornya.

Kejadian seperti ini benar-benar jadi pelajaran penting. V-belt jangan dianggap sepele, karena kalau sampai putus di jalan, repotnya bukan main, sob.

Kenapa akhirnya memilih v-belt racing TDR?

Setelah beberapa kali mengalami masalah v-belt, funkynetter mulai mencari pilihan lain. Akhirnya pilihan jatuh ke v-belt racing TDR.

Alasannya sederhana. Harga v-belt TDR waktu itu tidak terlalu jauh dari v-belt ori, tampilannya terlihat lebih kuat, bahannya terasa lebih tebal, dan secara tampilan memang terlihat lebih meyakinkan untuk dipakai harian dengan gaya berkendara yang suka akselerasi.

Selain itu, v-belt racing biasanya memang dibuat untuk karakter tarikan yang lebih responsif. Cocok untuk sobat yang suka motor terasa lebih enteng saat gas dibuka.

Tapi tetap perlu diingat, v-belt racing bukan berarti pasti lebih awet dari v-belt original. Semuanya tetap tergantung cara berkendara, kondisi CVT, kualitas part, dan kecocokan dengan motor.

Perbedaan v-belt TDR dengan v-belt ori Beat FI

Saat dibandingkan, v-belt TDR terlihat sedikit lebih pendek dibandingkan v-belt ori Honda Beat FI. Dari sisi tampilan, v-belt ini juga terlihat lebih tebal dan kokoh.

Karena ukurannya sedikit berbeda, karakter tarikan motor juga ikut berubah. Setelah dipasang, akselerasi bawah terasa lebih nendang. Motor terasa lebih responsif saat gas dibuka dari putaran bawah.

Buat funkynetter yang waktu itu masih suka betot gas, perubahan ini terasa cukup menyenangkan. Tarikan awal jadi lebih galak dan motor terasa lebih siap diajak akselerasi.

Proses pemasangan v-belt TDR

Pemasangan v-belt TDR waktu itu dilakukan dengan peralatan sederhana. Hanya mengandalkan kunci T 18 dan kunci sok 22, akhirnya v-belt berhasil dibongkar dan dipasang.

Setelah selesai dipasang, motor langsung terasa berbeda. Akselerasi putaran bawah terasa lebih padat, kemungkinan karena ukuran v-belt TDR yang sedikit lebih pendek dari v-belt ori.

Tapi untuk pemasangan seperti ini, sebaiknya tetap hati-hati. Kalau sobat belum terbiasa bongkar CVT, lebih aman dikerjakan di bengkel yang paham motor matic. Salah pasang atau kurang kencang bisa berisiko ke komponen lain.

Apakah v-belt racing cocok untuk harian?

Menurut pengalaman funkynetter, v-belt racing seperti TDR bisa terasa enak untuk akselerasi. Terutama kalau sobat suka tarikan awal yang lebih responsif.

Tapi untuk pemakaian harian, tetap ada hal yang harus diperhatikan. Jangan hanya fokus ke rasa tarikan yang lebih enak. Cek juga kondisi roller, pulley, kampas ganda, rumah roller, dan kebersihan CVT.

Kalau komponen CVT lain sudah aus atau kotor, v-belt baru pun bisa cepat rusak. Jadi saat mengganti v-belt, sebaiknya sekalian cek semua bagian CVT.

Jangan tunggu v-belt putus di jalan

Dari pengalaman funkynetter, v-belt yang sudah retak, pinggirannya mulai rusak, atau terlihat aus sebaiknya jangan dipaksa terlalu lama. Lebih baik diganti sebelum benar-benar putus.

Funkynetter juga pernah membahas pentingnya mengganti v-belt sebelum melewati batas pemakaian di artikel ini: ganti v-belt setiap 24.000 km agar tidak putus di jalan.

Untuk pemakaian normal, v-belt bisa bertahan cukup lama. Tapi kalau motor sering dipakai jarak jauh, sering macet-macetan, sering stop and go, atau sering dibawa gaspol, pengecekan sebaiknya dilakukan lebih cepat.

Pengalaman setelah mencoba v-belt lain

Selain v-belt TDR, funkynetter juga pernah mencoba v-belt Continental di Honda Beat FI. Awalnya cukup penasaran karena banyak yang bilang v-belt Continental cukup kuat untuk pemakaian berat.

Cerita lengkapnya bisa sobat baca di artikel ini: v-belt Continental akhirnya menyerah setelah sekitar 12.000 km.

Dari beberapa percobaan itu, funkynetter jadi paham bahwa tidak ada v-belt yang benar-benar kebal. Mau original, racing, atau aftermarket, semuanya tetap punya batas pakai.

Kesimpulan

Mengganti v-belt racing TDR di Honda Beat FI waktu itu jadi pilihan karena funkynetter butuh v-belt yang terasa lebih kuat dan cocok untuk gaya berkendara yang suka akselerasi. Setelah dipasang, tarikan bawah memang terasa lebih nendang dan motor terasa lebih responsif.

Tapi pengalaman ini juga memberi pelajaran penting. V-belt racing bukan jaminan pasti lebih awet. Kalau gaya berkendara terlalu agresif, CVT jarang dicek, atau komponen pendukung sudah aus, v-belt tetap bisa cepat rusak.

Jadi buat sobat yang ingin mengganti v-belt racing, sebaiknya jangan hanya mengejar tarikan yang lebih galak. Pastikan juga kondisi CVT sehat, part sesuai, dan pemasangannya benar.

Karena kalau v-belt sampai putus di jalan, rasanya benar-benar repot. Apalagi kalau kejadiannya malam hari, hujan, dan jalanan sepi. Pengalaman seperti itu cukup sekali saja, sob.

Artikel terkait:

Meta deskripsi:

Pengalaman funkynetter mengganti v-belt racing TDR di Honda Beat FI. Tarikan bawah lebih responsif, tapi umur v-belt tetap dipengaruhi gaya berkendara dan kondisi CVT.

Label:

Otomotif, Honda Beat, Beat FI, Motor Matic, CVT, V-Belt, V-Belt TDR, V-Belt Racing, Perawatan Motor

Share Artikel
Facebook Twitter Threads

💬 Diskusi (Live Sync App)

Menghubungkan ke server...

FunkyNetterCom

FunkyNetterCom

Baca, simpan artikel, nonton vlog, dan ikut obrolan lewat aplikasi Android.

Install

Artikel Baru

Artikel terbaru FunkyNetter

Baru saja terbit

Buka